Perilaku dan Emosi AnakPerilaku dan Emosi AnakPanduan lintas usia; contoh CDC khusus balita/prasekolah, sesuaikan dengan tahap perkembangan.

Anak Marah kepada Orang Tua: Cara Merespons dan Memulihkan Percakapan

TM
Tim MainStory29 Okt 2026 · 6 menit baca
Inti artikel
  • Marah adalah perasaan; perilaku yang menyakiti tetap perlu diberi batas.
  • Saat emosi memuncak, prioritaskan keselamatan dan atur diri sebelum melanjutkan percakapan.
  • Dengarkan anak tanpa harus membatalkan batas; cari solusi setelah suasana lebih tenang.
  • Jika orang tua membentak, akui tindakan dan perbaiki hubungan sambil menjaga aturan yang perlu tetap berlaku.
  • Catat konflik dengan empat prompt praktis; catatan ini bukan instrumen skrining atau diagnosis.
  • Cari bantuan profesional bila kemarahan berulang mengganggu fungsi keluarga atau menimbulkan risiko keselamatan.

Anak Marah kepada Orang Tua: Cara Merespons dan Memulihkan Percakapan

Saat anak membentak, membantah, atau berkata “aku benci Ibu/Ayah”, orang tua bisa ikut tersulut.[2] Tujuannya bukan memenangkan adu argumen, melainkan menjaga semua orang aman, memahami apa yang sedang terjadi, dan kembali membicarakan masalah setelah emosi mereda.

Marah adalah perasaan; menyakiti orang, mengancam, atau merusak barang adalah perilaku yang perlu diberi batas.[1] Pada sebagian anak, ledakan yang diarahkan kepada pengasuh dapat muncul ketika mereka kewalahan; perilaku itu sendiri tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa anak sengaja memanipulasi orang tua.[2]

Saat anak sedang marah: lakukan ini dulu

1. Periksa keselamatan, bukan siapa yang menang

Jika anak memukul, melempar benda, atau ada risiko seseorang terluka, hentikan interaksi yang berbahaya dan buat jarak aman.[2]

Jangan mengabaikan perilaku fisik yang berisiko; abaikan hanya perilaku ringan yang aman bila itu memang sesuai dengan rencana keluarga.[2]

Bila situasi aman, turunkan suara dan kurangi kata-kata.[2][3]

Coba kalimat pendek: “Aku mau mendengarkan. Aku tidak akan membiarkan kita saling menyakiti.”[1] Untuk anak yang lebih kecil, kalimat sederhana seperti “Kamu boleh marah; memukul tidak boleh” dapat membantu membedakan perasaan dari batas perilaku.[3]

2. Atur diri sebelum mencoba mengatur percakapan

Perhatikan tanda Anda sendiri—misalnya suara meninggi atau rahang mengencang.[4]

Jika mulai kehilangan kendali, berhenti sejenak bila anak tetap aman; minta orang dewasa tepercaya mengambil alih bila perlu.[4]

Mengambil jeda, menenangkan diri, lalu kembali berbicara adalah contoh yang dapat dilihat anak.[3][4]

Jangan memaksakan diskusi panjang saat salah satu dari Anda masih sangat marah.[2][3]

Menenangkan diri bukan berarti mengalah atau membatalkan aturan.[2]

Artinya menunda pembicaraan sampai Anda bisa mendengarkan dan menyampaikan batas dengan lebih jelas.[2][4]

3. Akui perasaan tanpa harus menyetujui tuntutannya

Coba tebak dengan hati-hati: “Kamu marah karena ponsel harus disimpan sekarang—benar begitu?” Beri kesempatan anak mengoreksi. Mendengarkan dan menamai perasaan dapat membantu anak merasa dipahami; batas pada perilaku yang menyakiti tetap bisa ditegakkan.[3]

Hindari kalimat yang mengecilkan perasaannya, seperti “Ah, begitu saja marah,” atau membalas dengan hinaan. Panduan American Academy of Pediatrics menganjurkan anak menyampaikan kemarahan dengan kata-kata dan menghindari memukul, merusak barang, atau mengatakan hal yang menyakiti.[1]

4. Tunda pemecahan masalah sampai lebih tenang

Saat napas dan suara mulai melambat, tanyakan satu hal: “Apa yang paling membuatmu kesal?” Dengarkan dulu; setelah itu, ajak mencari satu langkah yang bisa dilakukan, misalnya menyepakati waktu layar berikutnya atau cara meminta tambahan waktu. Membahas solusi ketika anak sudah lebih tenang lebih mungkin membuka percakapan daripada berdebat saat emosi sedang memuncak.[2]

Jangan mengubah batas penting hanya untuk menghentikan ledakan.[2] Anda tetap dapat mengakui kekecewaan sambil menjelaskan keputusan: “Aku tahu kamu kesal. Waktu bermain selesai, dan kita bisa membahas jadwal besok setelah makan.”[2]

Jika orang tua ikut membentak

Konflik kadang membuat orang tua bereaksi dengan cara yang kemudian disesali.[4] Setelah suasana aman dan lebih tenang, perbaiki bagian Anda secara langsung: “Ibu tadi membentak. Itu tidak tepat. Ibu minta maaf; lain kali Ibu akan berhenti sebentar sebelum bicara.”[4] Anda tidak perlu meminta maaf karena merasa marah, tetapi bertanggung jawab atas tindakan seperti membentak atau menyakiti dapat membantu membangun kembali kepercayaan.[4]

Minta maaf tidak berarti aturan hilang.[4]

Setelah memperbaiki hubungan, bicarakan kembali masalah awal dan batas yang tetap berlaku.[4]

Anak juga belajar dari cara orang dewasa mengakui kesalahan dan mencoba respons yang berbeda.[1][4]

Amati polanya tanpa memberi label

Bila kejadian berulang, catat singkat apa yang mendahului konflik, apa yang dikatakan atau dilakukan, bagaimana orang dewasa merespons, dan apa yang membantu keadaan mereda. Amati apakah konflik lebih sering muncul saat tugas tertentu, perubahan kegiatan, atau ketika semua orang sedang lelah; pola dapat membantu keluarga menyiapkan respons, tetapi catatan ini bukan alat diagnosis.[2]

Catatan 4 langkah untuk percakapan berikutnya

Setelah suasana tenang, isi empat baris ini: Sebelumnya: apa yang terjadi tepat sebelum konflik? Kejadian: apa yang dikatakan atau dilakukan? Respons: apa yang dilakukan orang dewasa? Langkah berikutnya: apa yang membantu atau ingin dicoba lain kali?

Ini templat praktis untuk membantu keluarga merangkum situasi; ini bukan alat skrining atau diagnosis dan tidak perlu memuat informasi pribadi yang tidak dibutuhkan.

Untuk anak usia prasekolah, CDC menyarankan orang tua menunggu sampai anak lebih tenang sebelum membantu menamai emosi atau mencari solusi.[3]

Untuk anak yang lebih besar, sepakati cara meminta jeda atau menyampaikan keberatan yang aman—misalnya “aku butuh waktu” atau “boleh kita bicara nanti?”—dan ajak anak ikut menyusun langkah berikutnya.[1] Sesuaikan kata-katanya dengan usia dan kemampuan komunikasi anak.

Kapan sebaiknya meminta bantuan?

Bicarakan dengan dokter anak atau tenaga kesehatan mental anak bila kemarahan atau perilaku agresif berulang kali membuat keluarga takut, mengganggu hubungan atau kegiatan sehari-hari, atau sulit ditangani dengan aman.[2][5]

Segera cari bantuan tenaga kesehatan jika perilaku anak tidak aman atau ia mengatakan ingin melukai diri sendiri/orang lain.[5]

Jika ancaman sedang terjadi atau keselamatan tidak dapat dijaga, hubungi layanan darurat setempat atau bawa anak ke IGD.[6] Jika orang tua khawatir akan kehilangan kendali, minta orang dewasa tepercaya mengambil alih dan cari bantuan segera.[4]

Mencari bantuan bukan berarti langsung memberi diagnosis.[2] Tenaga profesional dapat membantu keluarga memahami situasi dan memilih dukungan yang sesuai.[2]

Ringkasnya

Tetapkan batas pada perilaku yang menyakiti tanpa melarang anak merasa marah.[1][3]

Saat konflik memuncak, pastikan keselamatan, atur diri, dan gunakan kalimat singkat.[2][3]

Dengarkan dan cari solusi setelah keadaan lebih tenang.[2][3]

Jika orang tua ikut membentak, akui dampaknya dan perbaiki hubungan.[4]

Bila pola berulang mengganggu keseharian atau keselamatan, bicarakan dengan tenaga profesional.[1][2]

FAQ

Apakah anak marah kepada orang tua berarti tidak menghormati orang tua?

Tidak otomatis. Child Mind Institute menjelaskan bahwa saat anak meluapkan marah kepada pengasuh, hal itu dapat mencerminkan distress; satu kejadian bukan dasar untuk memberi label karakter atau niat.[2]

Haruskah orang tua langsung meminta anak menjelaskan alasannya?

Tidak harus saat emosi masih tinggi.[2][3]

Pastikan aman dulu, beri waktu untuk mereda, lalu ajukan satu pertanyaan dan dengarkan jawabannya.[2][3]

Bolehkah orang tua meminta maaf setelah membentak?

Boleh. Minta maaf atas tindakan seperti membentak, jelaskan bahwa Anda akan mencoba cara lain, lalu bicarakan kembali batas yang tetap berlaku.[4]

Kapan kemarahan anak perlu dibahas dengan profesional?

Bicarakan bila ledakan berulang kali mengganggu hubungan atau kegiatan sehari-hari, ada perilaku yang membahayakan, atau keluarga khawatir tidak dapat menjaga keselamatan.[2][4]

Sources

[1] https://www.healthychildren.org/English/healthy-living/emotional-wellness/Pages/Everybody-Gets-Mad-Helping-Your-Child-Cope-with-Conflict.aspx — Everybody Gets Mad: Helping Your Child Cope with Conflict [2] https://childmind.org/article/angry-kids-dealing-with-explosive-behavior — How to Manage Anger in Kids [3] https://www.cdc.gov/parenting-toddlers/noticing-and-naming/emotion-coaching.html — Tips for Noticing and Naming Emotions [4] https://raisingchildren.net.au/guides/first-1000-days/looking-after-yourself/anger-management-for-parents — Anger management guide for parents [5] https://www.nimh.nih.gov/health/publications/children-and-mental-health — Children and Mental Health: Is This Just a Stage? [6] https://www.healthychildren.org/English/tips-tools/symptom-checker/Pages/symptomviewer.aspx?symptom=Behavioral%2BHealth%2BProblems — Behavioral Health Problems: Symptom Checker

Kapan perlu konsultasi

  • Kemarahan atau perilaku agresif berulang kali membuat keluarga takut atau mengganggu hubungan maupun kegiatan sehari-hari.
  • Perilaku anak tidak aman atau anak mengatakan ingin melukai diri sendiri atau orang lain; segera cari bantuan tenaga kesehatan.
  • Jika ancaman sedang terjadi atau keselamatan tidak dapat dijaga, hubungi layanan darurat setempat atau bawa anak ke IGD.
  • Orang tua khawatir akan kehilangan kendali; minta orang dewasa tepercaya mengambil alih dan cari bantuan segera.

Tanda di atas bukan diagnosis. Ini sinyal untuk ngobrol dengan tenaga profesional supaya si kecil dapat dukungan lebih awal.

Pertanyaan yang sering diajukan

Tidak otomatis. Child Mind Institute menjelaskan bahwa saat anak meluapkan marah kepada pengasuh, hal itu dapat mencerminkan distress; satu kejadian bukan dasar untuk memberi label karakter atau niat.

Gratis, tanpa bayar
Pantau tumbuh kembang si kecil di appAktivitas harian sesuai usia, checklist milestone, dan grafik pertumbuhan.
Get it on Google Play
Download on the App Store
Biar si kecil belajar bersama temanCoba sehari di daycare MainStory terdekat: kegiatan penuh, laporan harian ke HP Mama.Cari daycare & coba trial

Baca juga

Yuk

Daftar ke

MainStory Logo