"Di daycare katanya baik-baik saja, tapi begitu dijemput malah nangis, ngambek, bahkan tantrum."
Jika Ayah dan Bunda pernah mengalami situasi seperti ini, tenang, Anda tidak sendirian.
Banyak orang tua merasa bingung ketika mendapat laporan bahwa anak bermain dengan baik, makan lahap, bahkan ceria sepanjang hari. Namun saat bertemu orang tua di sore hari, perilakunya justru berubah drastis.
Padahal, kondisi ini sering kali bukan tanda bahwa anak tidak betah di daycare atau sedang bermasalah.
Justru dalam banyak kasus, perilaku tersebut merupakan bagian normal dari perkembangan emosi anak.
Para ahli perkembangan anak mengenal istilah After-School Restraint Collapse, yaitu kondisi ketika anak meluapkan emosi yang selama ini ia tahan sepanjang hari setelah bertemu dengan orang yang membuatnya merasa paling aman.
Meskipun istilah ini sering digunakan untuk anak usia sekolah, fenomena serupa juga dapat terjadi pada balita dan anak usia dini.
Selama beraktivitas di luar rumah, anak berusaha mengikuti aturan, beradaptasi dengan lingkungan, berbagi dengan teman, serta mengelola berbagai emosi yang muncul.
Semua itu membutuhkan energi yang cukup besar.
Ketika akhirnya bertemu orang tua, anak merasa aman untuk melepaskan semua kelelahan emosional yang ia rasakan.
Ini mungkin terdengar mengejutkan.
Namun justru karena merasa aman, anak berani menunjukkan emosi yang sebenarnya ia rasakan.
Saat bersama guru, pengasuh, atau orang lain, anak mungkin berusaha mengontrol dirinya. Ketika bertemu Ayah atau Bunda, ia tahu bahwa dirinya akan tetap diterima meskipun sedang menangis atau marah.
Dengan kata lain, rewel saat dijemput sering kali merupakan tanda bahwa anak memiliki ikatan emosional yang kuat dengan orang tuanya.
Sama seperti orang dewasa yang merasa lelah setelah bekerja seharian, anak juga bisa mengalami kelelahan fisik dan mental.
Sepanjang hari mereka:
Ketika energi mulai habis, toleransi terhadap rasa frustrasi juga menurun. Akibatnya, anak menjadi lebih sensitif dan mudah menangis.
Bagi sebagian anak, proses berpisah dengan orang tua selama beberapa jam membutuhkan usaha yang tidak sedikit.
Meskipun mereka terlihat menikmati aktivitasnya, rasa rindu tetap bisa muncul.
Ketika akhirnya bertemu kembali dengan Ayah atau Bunda, emosi yang selama ini tertahan dapat keluar sekaligus dalam bentuk tangisan atau perilaku rewel.
Balita belum memiliki kemampuan yang matang untuk mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata.
Alih-alih berkata:
"Aku capek hari ini."
atau
"Aku kangen Bunda."
Mereka lebih mungkin mengekspresikannya melalui tangisan, rengekan, atau tantrum.
Perilaku tersebut bukan berarti anak nakal, melainkan karena kemampuan regulasi emosinya masih berkembang.
Hari yang padat dan penuh aktivitas juga bisa membuat anak mengalami kelelahan sensorik atau overstimulasi.
Misalnya:
Ketika kapasitas anak sudah penuh, emosi menjadi lebih sulit dikendalikan.
Saat anak menangis atau rewel, cobalah untuk tidak langsung memarahinya.
Alih-alih berkata:
"Kok nangis lagi sih?"
Cobalah mengatakan:
"Hari ini capek ya?"
atau
"Bunda di sini, nggak apa-apa."
Kalimat sederhana seperti ini dapat membantu anak merasa dipahami.
Tidak semua anak langsung siap bercerita setelah dijemput.
Sebagian anak membutuhkan waktu untuk menenangkan emosinya terlebih dahulu sebelum diajak berbicara.
Banyak orang tua langsung bertanya:
Saat anak sedang lelah, terlalu banyak pertanyaan justru bisa membuatnya semakin kewalahan.
Kadang penyebab rewel sangat sederhana:
Memenuhi kebutuhan dasar anak sering kali dapat membantu memperbaiki suasana hatinya dengan cepat.
Belum tentu.
Banyak orang tua khawatir ketika anak menangis saat dijemput dan langsung menganggap bahwa anak tidak nyaman berada di daycare.
Padahal, untuk mengetahui apakah anak benar-benar tidak betah, perlu melihat gambaran keseluruhan aktivitasnya selama berada di sana.
Jika anak:
Maka kemungkinan besar tangisan saat dijemput lebih berkaitan dengan pelepasan emosi dan rasa lelah, bukan karena ia tidak nyaman di lingkungan tersebut.
Selain memenuhi kebutuhan fisik anak, daycare juga berperan membantu perkembangan sosial dan emosional mereka.
Di MainStory Daycare, anak didampingi oleh pengasuh yang memahami tahapan perkembangan emosi anak usia dini. Aktivitas harian dirancang secara seimbang antara belajar, bermain, makan, dan istirahat sehingga anak mendapatkan stimulasi yang sesuai dengan kebutuhannya.
Selain itu, komunikasi rutin antara pengasuh dan orang tua membantu memastikan setiap perkembangan anak dapat dipantau bersama.
Anak yang rewel atau menangis saat dijemput bukan selalu pertanda bahwa ia sedang bermasalah atau tidak betah berada di daycare.
Sering kali, perilaku tersebut muncul karena anak merasa aman bersama orang tuanya sehingga berani melepaskan rasa lelah, rindu, dan berbagai emosi yang ia tahan sepanjang hari.
Dengan memahami alasan di balik perilaku tersebut, Ayah dan Bunda dapat merespons dengan lebih tenang serta membantu anak belajar mengenali dan mengelola emosinya secara sehat.
Karena terkadang, tangisan saat dijemput bukanlah tanda bahwa anak sedang kesulitan. Justru itu adalah caranya berkata, "Aku senang Ayah dan Bunda sudah datang." ❤️