Perilaku dan Emosi AnakPerilaku dan Emosi AnakAnak usia 3–8 tahun

Anak Suka Berbohong? Gunakan 4 Langkah Tanpa Memberi Label

TM
Tim MainStory21 Okt 2026 · 6 menit baca
Inti artikel
  • Bedakan imajinasi, menutup kesalahan, dan pola yang membutuhkan bantuan.
  • Sebut fakta dengan tenang dan jangan memberi label pembohong.
  • Beri jalan untuk jujur, lalu perbaiki akibat perbuatan bersama.
  • Cari bantuan profesional bila pola kronis atau menyangkut keselamatan.

Anak Suka Berbohong? Gunakan 4 Langkah Tanpa Memberi Label

Mendengar cerita yang jelas tidak sesuai kenyataan bisa membuat orang tua langsung berpikir, “Anak saya jadi pembohong.” Tahan dulu label itu.[1][2] Anak dapat mengatakan sesuatu yang tidak benar karena sedang berimajinasi, ingin menghindari hukuman, mencari perhatian, atau belum tahu cara mengakui kesalahan dengan aman.[1][2] Sesuaikan respons dengan usia: anak kecil mungkin masih mencampur fantasi dan kenyataan, sedangkan anak yang lebih besar biasanya lebih mampu memahami perbedaan keduanya.[1][2]

Tujuan respons kita bukan memaksa pengakuan secepat mungkin.[1][2] Tujuannya adalah membuat kejujuran terasa aman, memperbaiki akibat dari perbuatan, dan melihat apakah ada pola yang membutuhkan bantuan lebih lanjut.[1][2]

Sebelum merespons, bedakan tiga situasi

1. Imajinasi atau cerita pura-pura

Pada anak kecil, batas antara fantasi dan kenyataan belum selalu jelas. HealthyChildren menyebut anak di bawah 6 tahun sering masih kesulitan membedakan realitas dan fantasi, sementara Raising Children Network menekankan bahwa cerita imajinatif—terutama pada anak di bawah 4 tahun—tidak perlu diperlakukan sebagai kebohongan.[1][2]

Jika anak berkata bonekanya yang menumpahkan air, orang tua bisa menjawab ringan: “Wah, ceritanya seru. Sekarang, siapa yang bisa bantu lap airnya?”[2] Respons ini menjaga ruang bermain sambil tetap mengajak anak bertanggung jawab.[2]

2. Menutup kesalahan atau menghindari konsekuensi

Anak dapat berbohong karena takut mengecewakan orang tua atau takut dihukum.[1] Pertanyaan yang jawabannya sudah kita ketahui—misalnya, “Kamu yang menumpahkan susu?”—juga bisa membuat anak tergoda menyangkal. Raising Children Network menyarankan menyebut fakta dan mengajak membereskan, bukan memasang jebakan pertanyaan.[2]

Alih-alih menginterogasi, katakan: “Ayah melihat susunya tumpah. Mari kita bersihkan, lalu ceritakan apa yang terjadi.”[2]

3. Pola yang berulang atau berkaitan dengan masalah lain

Perhatikan alasan dan konteksnya sebelum menarik kesimpulan tentang karakter anak.[1][2] Bila kebohongan menjadi kronis atau memberi sinyal adanya masalah dalam kehidupan keluarga maupun di luar rumah, bicarakan dengan konselor atau tenaga kesehatan mental anak.[1]

Empat langkah saat anak mengatakan sesuatu yang tidak benar

Langkah 1: Atur nada suara dan sebut fakta

Mulai dari hal yang dapat diamati.[2] Hindari tuduhan dan label.[1][2]

  • Hindari: “Kamu bohong lagi!”
  • Coba: “Ibu melihat bungkus makanan di bawah meja, tetapi tadi kamu bilang tidak mengambilnya.”

Nada tenang bukan berarti membiarkan perilaku.[1] Hukuman keras biasanya tidak efektif, dan reaksi yang sangat negatif dapat membuat anak merasa harus kembali berbohong untuk melindungi diri.[1]

Langkah 2: Buat jalan pulang menuju kejujuran

Berikan kesempatan untuk memperbaiki cerita tanpa mempermalukan anak.[1][2]

Coba kalimat berikut:

“Kamu boleh mencoba cerita sekali lagi. Mengatakan yang sebenarnya membantu kita memperbaiki masalah.”

“Kalau kamu takut dimarahi, katakan dulu, ‘Aku takut.’ Setelah itu kita bicarakan apa yang terjadi.”

“Ibu lebih ingin mendengar cerita yang jujur daripada cerita yang sempurna.”

Memuji keberanian anak ketika mengaku dapat memperkuat kebiasaan jujur.[2] Pujilah perilakunya, bukan identitasnya: “Terima kasih sudah memperbaiki ceritamu,” bukan “Nah, baru jadi anak baik.”[2]

Langkah 3: Pisahkan kejujuran dari perbaikan

Mengatakan yang sebenarnya tidak otomatis menghapus akibat.[2] Anak tetap perlu memperbaiki dampaknya, tetapi konsekuensi harus berhubungan dengan kejadian.[2]

Contoh:

  • Jika anak menumpahkan minuman lalu menyangkal, ajak membersihkan bersama.
  • Jika anak mengambil barang saudara tanpa izin, minta mengembalikan dan menyusun cara meminta izin lain kali.
  • Jika anak mengarang sudah mengerjakan tugas, cek bagian yang belum selesai dan buat rencana pengerjaan yang realistis.

Pesannya: “Kamu aman untuk jujur, dan kita tetap bertanggung jawab atas pilihan kita.”[1][2]

Langkah 4: Cari kebutuhan di balik cerita

Setelah situasi tenang, tanyakan apa yang membuat anak sulit mengatakan yang sebenarnya.[1][2]

  • “Kamu takut apa akan terjadi?”
  • “Apa yang kamu harapkan ketika mengatakan itu?”
  • “Apa yang bisa Ayah lakukan supaya lain kali kamu lebih mudah jujur?”

Anak bisa sedang menghindari hukuman, mencari perhatian, mencoba membuat cerita lebih menarik, atau ingin mendapatkan sesuatu.[2] Memahami fungsi kebohongan membantu orang tua memilih respons yang lebih tepat daripada memberi hukuman yang sama untuk semua situasi.[1][2]

Gunakan catatan pola, bukan cap karakter

Selama satu atau dua minggu, catat singkat: apa yang terjadi sebelum kebohongan, apa yang dikatakan anak, bagaimana respons orang dewasa, dan apa yang terjadi sesudahnya. Catatan ini hanyalah alat pengamatan keluarga, bukan tes psikologis atau durasi skrining yang tervalidasi.

Cari pola sederhana. Apakah anak lebih sering menyangkal ketika orang dewasa sedang marah? Apakah cerita muncul saat ia ingin diterima teman? Apakah tuntutan tugas terasa terlalu sulit? Data kecil ini membantu orang tua mengubah situasi pemicu.[1][2]

Cara membangun budaya jujur di rumah

Anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi juga dari contoh orang dewasa.[1] HealthyChildren menekankan bahwa tindakan dan cara orang tua berkata jujur merupakan cara penting mengajarkan kejujuran.[1]

Praktikkan hal-hal kecil:

  1. Akui kesalahan sendiri: “Ibu lupa mengirim pesan tadi. Ibu akan memperbaikinya.”
  2. Hindari meminta anak menutupi sesuatu untuk orang dewasa.
  3. Jangan mempermalukan anak di depan saudara atau teman.
  4. Bicarakan tokoh cerita: apa akibat ketika tokoh menyembunyikan kenyataan?
  5. Beri respons yang konsisten ketika anak jujur, termasuk saat isinya tidak menyenangkan.

Kejujuran tumbuh lebih kuat ketika anak tahu bahwa kebenaran akan didengar dengan tenang, bukan ketika ia takut tertangkap.[1][2]

Kapan perlu meminta bantuan

Pertimbangkan berkonsultasi dengan psikolog anak, konselor sekolah, atau dokter anak bila kebohongan menjadi kronis, mengganggu hubungan dan kegiatan sehari-hari, atau tetap meningkat meski keluarga sudah merespons dengan konsisten.[1]

Cari bantuan lebih cepat bila cerita anak mengarah pada ancaman, kekerasan, atau masalah keselamatan.[3] Jangan menjanjikan rahasia mutlak; dengarkan tanpa menyalahkan dan catat kata-kata anak apa adanya.[3]

Untuk dugaan kekerasan terhadap anak di Indonesia, laporan dapat disampaikan ke SAPA 129 melalui telepon 129, WhatsApp 08-111-129-129, atau formulir daring.[4] Jika ada bahaya langsung, ancaman, atau tindak kekerasan yang memerlukan bantuan kepolisian, hubungi Call Center Polri 110.[5]

Ringkasnya

Ketika anak berbohong, jangan buru-buru menjadikannya identitas.[1][2] Bedakan imajinasi dari usaha menutup kesalahan, sebut fakta dengan tenang, sediakan jalan untuk berkata jujur, lalu perbaiki dampaknya bersama.[1][2] Jika polanya menetap atau menyangkut keselamatan, minta bantuan profesional.[1][3]

FAQ

Apakah anak berbohong berarti ia nakal?

Tidak otomatis.[1][2] Anak dapat berbohong karena berbagai alasan, termasuk takut dihukum, ingin mendapatkan sesuatu, bereksperimen dengan cerita, atau belum jelas membedakan fantasi dan kenyataan.[1][2] Fokuslah pada situasi dan keterampilan yang perlu dibangun, bukan label karakter.[1][2]

Haruskah anak dihukum ketika berbohong?

Konsekuensi yang terkait dengan perbuatan tetap bisa diperlukan, tetapi hukuman keras biasanya tidak efektif.[1] Utamakan kesempatan berkata jujur, memperbaiki dampak, dan merencanakan pilihan yang lebih baik.[1][2]

Bagaimana jika anak tetap menyangkal padahal orang tua tahu faktanya?

Hindari debat panjang.[1][2] Sebut bukti yang terlihat, beri waktu untuk tenang, lalu tawarkan kesempatan menceritakan ulang.[1][2] Orang tua dapat melanjutkan perbaikan berdasarkan fakta tanpa memaksa pengakuan saat emosi sedang tinggi.[1][2]

Sources

[1] https://healthychildren.org/English/family-life/family-dynamics/communication-discipline/pages/When-Children-Lie.aspx — When Children Lie: What Parents Can Do [2] https://raisingchildren.net.au/preschoolers/behaviour/common-concerns/lies — Children and lying: why kids lie and what to do [3] https://www.childsafety.gov.au/about-child-sexual-abuse/responding-child-sexual-abuse-disclosures — Responding to child sexual abuse disclosures [4] https://laporsapa129.kemenpppa.go.id — SAPA 129 [5] https://polri.go.id/kontak/call-center-110 — Call Center 110

Coba di rumahGratis
Gross Motor Skills10-15 menit36 - 39 Bulan

Tebak Emosi dari Gerak Tubuh

Anak membaca emosi lewat bahasa tubuh, bukan hanya wajah.

Belum punya app? Langkahnya tetap bisa dibaca di web.
Coba di rumahGratis
Circle Time10 menit48 - 51 Bulan

Cerita Hidupku

Belum punya app? Langkahnya tetap bisa dibaca di web.

Kapan perlu konsultasi

  • Kebohongan menjadi kronis atau mengganggu hubungan dan kegiatan sehari-hari.
  • Pola meningkat meski respons keluarga sudah tenang dan konsisten.
  • Cerita menyangkut ancaman, kekerasan, atau keselamatan; gunakan SAPA 129 dan Polri 110 sesuai tingkat urgensi.

Tanda di atas bukan diagnosis. Ini sinyal untuk ngobrol dengan tenaga profesional supaya si kecil dapat dukungan lebih awal.

Pertanyaan yang sering diajukan

Tidak otomatis. Cari fungsi perilakunya—misalnya takut dihukum, berimajinasi, atau ingin mendapat sesuatu—dan fokus pada keterampilan berkata jujur.

Gratis, tanpa bayar
Pantau tumbuh kembang si kecil di appAktivitas harian sesuai usia, checklist milestone, dan grafik pertumbuhan.
Get it on Google Play
Download on the App Store
Biar si kecil belajar bersama temanCoba sehari di daycare MainStory terdekat: kegiatan penuh, laporan harian ke HP Mama.Cari daycare & coba trial

Baca juga

Cek milestone si kecilGratis di app MainStory
Buka app

Yuk

Daftar ke

MainStory Logo