Anak Sulit Menghafal Pelajaran? Coba Latihan Mengingat dengan Jeda
- Coba mengingat materi tanpa melihat catatan, lalu periksa bersama.
- Gunakan latihan singkat untuk melihat bagian mana yang perlu dipelajari lagi, bukan sebagai ujian untuk menghakimi anak.
- Bagi kesempatan latihan ke beberapa sesi pada hari berbeda; contoh jeda bukan aturan universal.
- Bicarakan kesulitan yang terus menghambat belajar dengan guru menggunakan contoh konkret.
Anak Sulit Menghafal Pelajaran? Coba Latihan Mengingat dengan Jeda
Anak sudah membaca halaman yang sama beberapa kali, tetapi saat buku ditutup sulit menjelaskan isinya? Itu belum cukup untuk menyimpulkan bahwa ia malas atau punya masalah daya ingat. Mulailah dengan mengubah cara berlatih: setelah memahami materi, ajak anak mencoba mengingatnya tanpa melihat catatan, lalu periksa jawabannya.[1][3]
Latihan mengambil kembali informasi (retrieval practice) berarti mencoba mengingat materi yang sudah dipelajari; riset yang dirangkum Institute of Education Sciences (IES) mengaitkannya dengan retensi jangka panjang.[2] IES juga merekomendasikan kuis yang meminta siswa mengambil informasi dari ingatan sebagai salah satu strategi belajar.[1] Tinjauan riset oleh Dunlosky dan kolega menilai latihan tes mandiri serta belajar yang dibagi ke beberapa sesi sebagai strategi yang bermanfaat untuk banyak usia dan jenis materi, tetapi itu bukan jaminan hasil bagi setiap anak.[3]
Rutinitas singkat untuk mencoba di rumah
1. Pilih satu sasaran kecil
Tanyakan materi apa yang perlu dipahami atau diingat untuk pelajaran berikutnya. Pilih beberapa kata kunci, satu urutan proses, atau satu gagasan utama—bukan seluruh bab sekaligus. Jika ada tujuan atau istilah khusus dari guru, gunakan itu sebagai acuan.
2. Baca atau pelajari dulu sampai anak punya gambaran
Beri waktu untuk membaca, mendengar penjelasan, atau melihat contoh. Latihan mengingat bukan berarti anak harus menebak materi yang belum dipahami. Jika ia belum dapat menjelaskan gagasan dasarnya, buka kembali bahan dan bahas bagian yang membingungkan.
3. Tutup bahan, lalu coba ingat
Minta anak memilih cara yang nyaman: menyebutkan kembali dengan kata-katanya sendiri, menulis beberapa poin, menggambar, atau menjawab pertanyaan sederhana. Contohnya: “Apa tiga hal utama yang kamu ingat?” atau “Bisa ceritakan urutannya tanpa melihat buku?” Kartu kecil juga bisa dipakai: pertanyaan di satu sisi, jawaban di sisi lain.[3]
Latihan mengingat berbeda dari membaca ulang saja: salah satu contoh dalam tinjauan Dunlosky membandingkan membaca informasi lagi dengan menutup jawabannya lalu mencoba mengingatnya.[3] Untuk anak yang belum lancar menulis, jawaban lisan atau gambar dapat menjadi cara praktis untuk mencoba mengingat.
4. Periksa bersama dan beri petunjuk seperlunya
Buka kembali catatan setelah anak mencoba. Tandai bagian yang tepat dan bagian yang perlu dipelajari lagi; jika ia belum ingat, beri petunjuk kecil atau cari jawabannya bersama. Latihan mandiri dapat membantu menunjukkan bagian mana yang masih perlu dipelajari, bukan menjadi nilai atau ujian untuk menghakimi anak.[3]
Jaga suasananya tetap ringan: “Bagian ini belum muncul tadi; mari lihat lagi,” lebih membantu daripada “Kok lupa lagi?” Anak tidak harus mengingat semuanya pada percobaan pertama.
5. Ulangi dalam sesi terpisah
Daripada menumpuk semua pengulangan pada satu malam, buat beberapa kesempatan singkat untuk mencoba mengingat pada hari yang berbeda. Sebagai contoh keluarga, anak dapat mencoba lagi keesokan harinya dan beberapa hari kemudian; jeda ini hanyalah contoh yang bisa disesuaikan dengan jadwal kelas, bukan jarak waktu terbaik yang berlaku untuk semua materi. Tinjauan Dunlosky melaporkan bahwa praktik yang dibagi dalam waktu membantu retensi lebih lama dibandingkan memadatkan latihan, bahkan ketika jumlah waktu latihannya sama.[3]
Sesuaikan pertanyaan dengan jenis materi
- Istilah atau kosakata: tutup definisinya, sebutkan artinya, lalu berikan satu contoh sendiri.
- Materi IPA atau IPS: minta anak menyebut gagasan utama, menjelaskan “mengapa” atau “bagaimana”, atau mengurutkan kembali proses yang dipelajari.[1]
- Rumus matematika: selain mengingat rumus, ajak anak menjelaskan kapan rumus itu digunakan dan mencoba satu soal. Jika bingung, kembali ke contoh yang diberikan guru.
- Bahasa atau ejaan: coba mengingat arti, bunyi, atau cara menulis dari petunjuk singkat, lalu periksa bersama.
Contoh-contoh ini adalah cara membuat pertanyaan latihan di rumah, bukan metode yang sudah diuji satu per satu dalam sumber di bawah. Cocokkan dengan materi kelas anak; belajar memahami gagasan tetap penting, bukan hanya mengingat kata-kata.
Hal yang sebaiknya dihindari
- Mengulang bacaan berkali-kali tanpa pernah mencoba menutup buku dan mengingat kembali.
- Mengubah setiap sesi latihan menjadi tes berisiko tinggi atau sumber hukuman.
- Memaksa anak menghafal satu bab penuh sekaligus ketika ia belum memahami bagian dasarnya.
- Membandingkan ingatan anak dengan saudara atau teman.
- Menganggap satu kali lupa sebagai bukti bahwa anak tidak berusaha atau memiliki gangguan tertentu.
Kapan berbicara dengan guru?
Jika anak terus kesulitan mengingat materi sehingga menghambat kegiatan belajar, catat contoh yang spesifik: materi apa, bentuk latihan apa yang sudah dicoba, dan bagian mana yang tetap membingungkan. Bicarakan catatan itu dengan guru dan tanyakan apakah anak sudah memahami konsep, instruksi, serta kosakata yang digunakan. Guru dapat membantu menentukan dukungan belajar yang sesuai. Artikel ini bukan alat untuk menilai atau mendiagnosis penyebab kesulitan belajar.
Jika yang dibutuhkan terutama adalah rutinitas mengerjakan PR dan cara mendampingi tanpa mengambil alih tugas, lihat juga panduan mendampingi anak belajar di rumah.
Intinya
Setelah anak mempelajari materi, coba tutup buku, ajak ia mengingat kembali beberapa hal, periksa bersama, lalu ulangi lagi dalam sesi singkat yang terpisah. Jadikan latihan sebagai cara menemukan bagian yang perlu dipelajari lagi—bukan ukuran kepintaran atau diagnosis.[1][3]
FAQ
Apakah anak harus menghafal setiap materi sekolah?
Tidak selalu. Sebagian materi perlu diingat, tetapi memahami gagasan dan bisa menjelaskannya juga penting. Tanyakan kepada guru materi mana yang perlu dikuasai dan bentuk latihan yang sesuai.
Apakah membaca ulang itu salah?
Tidak. Membaca ulang dapat membantu anak mempelajari atau memahami materi. Namun, jangan hanya mengandalkannya: tambahkan percobaan mengingat tanpa melihat catatan, lalu cocokkan jawabannya.[3]
Bagaimana jika anak tidak bisa menjawab saat buku ditutup?
Beri petunjuk kecil atau buka catatan bersama untuk mempelajari bagian itu lagi. Coba kembali nanti dalam sesi singkat; jangan jadikan satu percobaan sebagai penilaian kemampuan anak.[3]
Berapa kali sehari anak perlu berlatih?
Tidak ada jumlah sesi yang ditetapkan artikel ini sebagai aturan untuk semua anak. Pilih sesi singkat yang realistis dan sebar kesempatan latihan pada waktu berbeda; sesuaikan dengan materi, usia, dan arahan guru.[3]
Sources
[1] https://ies.ed.gov/ncee/WWC/Docs/PracticeGuide/20072004.pdf — Organizing Instruction and Study to Improve Student Learning — IES Practice Guide [2] https://ies.ed.gov/learn/blog/lightbulb-moment-how-ies-sparks-research-teaching-and-practice — A Lightbulb Moment: How IES Sparks Research, Teaching, and Practice [3] https://aft.org/ae/fall2013/dunlosky — Strengthening the Student Toolbox: Study Strategies to Boost Learning — American Educator
Kapan perlu konsultasi
- Jika kesulitan mengingat terus menghambat kegiatan belajar, catat contoh spesifik dan bicarakan dengan guru; tanyakan apakah konsep, instruksi, atau kosakata sudah dipahami. Artikel ini bukan alat diagnosis.
Tanda di atas bukan diagnosis. Ini sinyal untuk ngobrol dengan tenaga profesional supaya si kecil dapat dukungan lebih awal.
Pertanyaan yang sering diajukan
Tidak selalu. Sebagian materi perlu diingat, tetapi memahami gagasan dan bisa menjelaskannya juga penting. Tanyakan kepada guru materi mana yang perlu dikuasai dan bentuk latihan yang sesuai.
Tidak. Membaca ulang dapat membantu anak mempelajari atau memahami materi. Namun, tambahkan percobaan mengingat tanpa melihat catatan, lalu cocokkan jawabannya.
Beri petunjuk kecil atau buka catatan bersama untuk mempelajari bagian itu lagi. Coba kembali nanti dalam sesi singkat; jangan jadikan satu percobaan sebagai penilaian kemampuan anak.
Tidak ada jumlah sesi yang ditetapkan sebagai aturan untuk semua anak. Pilih sesi singkat yang realistis dan sebar kesempatan latihan pada waktu berbeda; sesuaikan dengan materi, usia, dan arahan guru.
