Kesehatan AnakKesehatan AnakBayi, balita, dan anak usia 7–17 tahun

Cara Daftar Cek Kesehatan Gratis untuk Anak: Pilih Jalur Sesuai Usia

TM
Tim MainStory21 Okt 2026 · 10 menit baca
Inti artikel
  • Bedakan kanal pendaftaran CKG dari lokasi dan jadwal pemeriksaan.
  • Peserta didik dapat didaftarkan melalui SATUSEHAT Mobile, WhatsApp resmi, atau bantuan petugas Puskesmas pengampu.
  • Anak usia 7–17 tahun di luar sekolah mengikuti layanan melalui Puskesmas.
  • Simpan hasil dan ikuti arahan tindak lanjut; CKG bukan pengganti pertolongan akut.

Cara Daftar Cek Kesehatan Gratis untuk Anak: Pilih Jalur Sesuai Usia

Orang tua tidak selalu harus mendaftarkan anak lewat jalur yang sama. Kuncinya adalah membedakan usia anak, apakah anak bersekolah, dan di mana pemeriksaan akan dilakukan. Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) tersedia untuk masyarakat sejak bayi baru lahir, sedangkan anak usia 7–17 tahun mendapat jalur CKG Sekolah pada tahun ajaran baru.[2]

Panduan ini membantu Anda memilih jalur pendaftaran, menyiapkan informasi yang diperlukan, dan memahami langkah setelah hasil pemeriksaan keluar. Karena pelaksanaan melibatkan sekolah dan Puskesmas, konfirmasikan detail terakhir kepada penyelenggara setempat.[4]

Jawaban singkat: daftar lewat sekolah atau Puskesmas?

Gunakan peta keputusan berikut.

  1. Anak berusia 7–17 tahun dan terdaftar di sekolah: pemeriksaannya berlangsung di sekolah, tetapi orang tua dapat mendaftarkan anak melalui SATUSEHAT Mobile, WhatsApp resmi Kementerian Kesehatan, atau bantuan petugas Puskesmas pengampu.[3][5]
  2. Anak berusia 7–17 tahun tetapi tidak bersekolah: tanyakan pelaksanaan CKG ke Puskesmas. Kementerian Kesehatan menempatkan layanan bagi anak usia sekolah di luar satuan pendidikan di Puskesmas.[3]
  3. Anak di bawah 7 tahun: gunakan jalur CKG di fasilitas kesehatan primer. Kementerian Kesehatan menyediakan pendaftaran melalui SATUSEHAT Mobile, chatbot WhatsApp resmi, atau kunjungan langsung ke Puskesmas.[2]

Peta ini penting karena lokasi layanan nasional memang dibedakan menurut status sekolah anak.[3] CKG adalah layanan deteksi dini dan pencegahan, bukan pengganti pemeriksaan ketika anak sedang membutuhkan penanganan medis.[2]

Jalur 1: anak mengikuti CKG melalui sekolah

CKG Sekolah ditujukan bagi peserta didik SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA/SMK atau sederajat, termasuk SLB, pesantren, dan Sekolah Rakyat. Anak usia 7–17 tahun di luar satuan pendidikan tetap termasuk sasaran, tetapi lokasi layanannya berbeda.[3]

Untuk anak yang bersekolah, bedakan kanal pendaftaran dari lokasi dan jadwal pemeriksaan. Orang tua atau wali dapat mendaftarkan siswa melalui SATUSEHAT Mobile atau WhatsApp resmi Kementerian Kesehatan. Bila terkendala telepon atau WhatsApp, petugas Puskesmas pengampu dapat membantu melalui SATUSEHAT IndonesiaKu (ASIK).[5]

1. Daftar melalui SATUSEHAT Mobile

Tambahkan anak sebagai profil tertaut, pilih profil anak, lalu buka layanan CKG Sekolah. Lengkapi identitas siswa dan wali, pilih pekerjaan “Pelajar”, lokasi sekolah berdasarkan kecamatan, nama sekolah, serta jenjang atau kelas. Setelah data disimpan, orang tua memperoleh tiket CKG Sekolah.[5]

Di aplikasi, siswa memilih lokasi sekolah, bukan tanggal kunjungan. Pemeriksaan tetap dilakukan di sekolah mengikuti jadwal kunjungan Puskesmas.[5]

2. Daftar melalui WhatsApp resmi

Mulai dari WhatsApp resmi Kementerian Kesehatan 0811-10-500-567, pilih menu “Cek Kesehatan Gratis”, lalu ikuti tautan pendaftaran yang diberikan.[5] Cocokkan nomor dan tautan dengan sumber resmi sebelum mengisi data pribadi.

Lengkapi kategori pekerjaan “Pelajar”, kecamatan sekolah, nama sekolah, jenjang atau kelas, serta data wali. Simpan formulir untuk mendapatkan tiket CKG Sekolah, kemudian isi skrining mandiri sebelum layanan pemeriksaan.[5]

3. Minta bantuan petugas Puskesmas bila terkendala

Jika orang tua tidak memiliki nomor telepon atau WhatsApp, atau tidak dapat menyelesaikan pendaftaran, petugas Puskesmas pengampu sekolah dapat membantu mendaftarkan siswa melalui ASIK.[5] Tanyakan jalurnya kepada sekolah, UKS, atau Puskesmas pengampu; jangan membuat identitas anak berulang kali.

4. Konfirmasikan jadwal dan formulir dari sekolah

Sekolah dan Puskesmas mengoordinasikan pelaksanaan. Dalam penjelasan Kementerian Kesehatan, persiapan teknis dilakukan sekitar tujuh hari sebelum pemeriksaan dan mencakup pembagian kuesioner kepada siswa serta orang tua.[4]

Jika belum menerima informasi, tanyakan kepada wali kelas atau petugas UKS karena sekolah ikut berkoordinasi dalam persiapan pelaksanaan.[4]

  • tanggal dan jam pemeriksaan dari sekolah;[4]
  • formulir yang perlu diisi sebelum pemeriksaan;[4]
  • data anak yang perlu disiapkan dalam kuesioner;[4]
  • apakah orang tua perlu hadir atau cukup membantu pengisian;[4]
  • cara menerima hasil dan arahan tindak lanjut.[4]

5. Isi kuesioner dengan kondisi yang sebenarnya

Gunakan informasi yang Anda ketahui, bukan jawaban yang dianggap “paling baik”. Catat riwayat kesehatan, keluhan yang sedang muncul, penggunaan kacamata atau alat bantu, obat rutin, dan informasi lain yang memang diminta. Untuk siswa SD, Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa pengisian dibantu orang tua, sedangkan siswa SMP dan SMA dapat mengisi sendiri.[4]

Bila ada pertanyaan yang tidak dipahami, tandai dan konfirmasikan kepada sekolah atau petugas kesehatan yang mengoordinasikan pemeriksaan.[4] Jangan menebak diagnosis.

6. Jelaskan proses kepada anak

Sampaikan bahwa pemeriksaan dapat berbeda sesuai usia dan jenjang. CKG Sekolah dapat mencakup status gizi, pemeriksaan mata dan telinga, gigi, kesehatan jiwa, anemia, serta pemeriksaan lain sesuai kelompok umur.[3]

Hindari menjanjikan bahwa semua pemeriksaan pasti sama untuk setiap anak karena paketnya disesuaikan menurut kelompok umur dan jenjang.[3] Lebih aman mengatakan, “Petugas akan menjelaskan pemeriksaan yang sesuai untuk kelas dan usiamu.”

7. Simpan hasil dan instruksi tindak lanjut

Hasil skrining bukan label atau diagnosis akhir. Jika ditemukan masalah yang perlu ditindaklanjuti, anak dapat dirujuk ke Puskesmas; sekolah dan Puskesmas juga dapat menyusun edukasi bersama bila ditemukan pola masalah pada banyak siswa.[4]

Saat menerima hasil, tanyakan tiga hal agar temuan yang memerlukan tindak lanjut tidak berhenti pada skrining.[4]

  • temuan mana yang hanya perlu dipantau;
  • temuan mana yang memerlukan pemeriksaan lanjutan;
  • ke mana dan kapan tindak lanjut dilakukan.

Jalur 2: anak usia 7–17 tahun tidak bersekolah

Anak usia 7–17 tahun di luar satuan pendidikan mengikuti CKG melalui Puskesmas, bukan menunggu jadwal sekolah.[3] Hubungi Puskesmas terdekat karena fasilitas itulah lokasi layanan yang ditetapkan untuk kelompok ini.[3]

Anda dapat memulai dengan urutan berikut:

  1. cari Puskesmas yang mudah dijangkau sebagai lokasi CKG anak di luar sekolah;[3]
  2. tanyakan jadwal CKG bagi anak usia sekolah di luar satuan pendidikan;[3]
  3. sebutkan usia anak dan bahwa anak tidak terdaftar di sekolah agar jalurnya tepat;[3]
  4. tanyakan data identitas serta riwayat kesehatan yang perlu dibawa ke Puskesmas;[3]
  5. catat jadwal dan nama unit layanan.

Langkah konfirmasi ini mengurangi risiko datang ketika layanan tidak tersedia. Persyaratan operasional dapat berbeda antarfasilitas, sehingga jangan menganggap daftar dokumen dari Puskesmas lain otomatis berlaku.

Jalur 3: anak di bawah 7 tahun melalui fasilitas kesehatan

Kementerian Kesehatan menyebut tiga cara pendaftaran CKG untuk masyarakat: SATUSEHAT Mobile, chatbot WhatsApp resmi, dan datang langsung ke Puskesmas.[2]

Opsi A: SATUSEHAT Mobile

Gunakan aplikasi untuk melihat jadwal dan lokasi Puskesmas yang melayani CKG.[2] Periksa kembali profil anak sebelum memilih lokasi dan jadwal di aplikasi.[2] Bila data anak tidak muncul atau tidak cocok, jangan membuat identitas baru secara sembarang; gunakan kanal bantuan aplikasi atau minta petugas Puskesmas memeriksa data.

Opsi B: chatbot WhatsApp resmi

Kementerian Kesehatan mencantumkan chatbot WhatsApp 081110500567 sebagai salah satu jalur pendaftaran.[2] Pastikan nomor tujuan sama persis dengan kanal resmi yang tercantum di situs Kementerian Kesehatan sebelum mengirim data pribadi.[2]

Jangan mengirim data kepada nomor yang hanya diteruskan dari grup; cocokkan dahulu dengan nomor chatbot pada situs Kementerian Kesehatan.[2]

Opsi C: datang langsung ke Puskesmas

Untuk masyarakat yang kesulitan mengakses internet, Kementerian Kesehatan menyebut kunjungan langsung ke Puskesmas dengan membawa KTP atau KK sebagai pilihan pendaftaran.[2] Agar tidak bolak-balik, tanyakan jadwal layanan anak kepada Puskesmas yang akan membantu pendaftaran langsung.[2]

Checklist praktis sebelum hari pemeriksaan

Pisahkan antara dokumen yang diwajibkan dan informasi yang membantu pemeriksaan. Konfirmasikan dokumen wajib kepada sekolah atau Puskesmas karena ketentuan lokal dapat berubah.

Siapkan dalam satu map atau folder ponsel:

  • identitas anak dan data orang tua/wali yang diminta;
  • KTP atau KK untuk jalur Puskesmas, sesuai panduan nasional;[2]
  • Buku KIA, catatan imunisasi, atau hasil pemeriksaan sebelumnya bila tersedia;
  • daftar obat atau suplemen yang sedang digunakan;
  • catatan singkat tentang keluhan, alergi yang sudah diketahui, penggunaan kacamata, atau kebutuhan dukungan anak;
  • nomor telepon yang aktif untuk menerima informasi hasil.

Pada hari pemeriksaan, ikuti petunjuk penyelenggara karena jenis pemeriksaan berbeda menurut kelompok umur dan jenjang.[3] Jangan membuat aturan puasa sendiri kecuali petugas secara khusus memintanya.

Jika jadwal, data, atau hasil belum jelas

Gunakan urutan penyelesaian sederhana:

  1. Jadwal sekolah belum ada: tanyakan wali kelas atau UKS, bukan mendaftar ganda tanpa arahan.
  2. Anak tidak bersekolah: hubungi Puskesmas dan sebutkan jalur CKG anak usia 7–17 tahun di luar satuan pendidikan.[3]
  3. Data anak bermasalah di aplikasi: gunakan pusat bantuan SATUSEHAT atau minta bantuan petugas fasilitas; jangan menggandakan identitas. SATUSEHAT menyediakan halaman bantuan khusus pendaftaran CKG Sekolah dan panduan pendaftaran yang menjelaskan langkah serta kanal bantuan.[1][5]
  4. Hasil belum diterima: tanyakan kanal distribusi hasil dan tanggal perkiraannya kepada penyelenggara.
  5. Ada temuan yang perlu ditindaklanjuti: minta tujuan rujukan, batas waktu, dan dokumen yang perlu dibawa. Temuan CKG dapat dilanjutkan melalui Puskesmas.[4]

CKG bukan jalur pertolongan akut

CKG dirancang untuk deteksi dini dan pencegahan.[2] Jika anak sedang mengalami keluhan yang terasa berat, memburuk cepat, atau membutuhkan pertolongan segera, jangan menunggu jadwal CKG. Gunakan layanan kesehatan biasa atau layanan kegawatdaruratan sesuai kondisi anak.

Artikel ini membantu navigasi layanan dan tidak menggantikan penilaian tenaga kesehatan.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah semua anak harus mendaftar lewat SATUSEHAT Mobile?

Tidak. Peserta didik usia 7–17 tahun diperiksa di sekolah, tetapi orang tua dapat mendaftarkan siswa melalui SATUSEHAT Mobile, WhatsApp resmi Kementerian Kesehatan, atau bantuan petugas Puskesmas pengampu.[3][5] Anak usia 7–17 tahun yang tidak bersekolah dilayani melalui Puskesmas.[3]

Apakah orang tua harus hadir saat CKG Sekolah?

Mekanismenya mengikuti pengaturan sekolah dan Puskesmas. Orang tua siswa SD setidaknya perlu siap membantu pengisian kuesioner sebelum pelaksanaan.[4] Konfirmasikan apakah kehadiran fisik diperlukan.

Apakah pemeriksaannya sama untuk semua umur?

Tidak selalu. Jenis pemeriksaan disesuaikan dengan kelompok umur dan jenjang pendidikan.[3] Mintalah daftar pemeriksaan dari penyelenggara agar anak dapat dipersiapkan tanpa menakut-nakuti.

Bagaimana jika anak tidak punya NISN atau tidak bersekolah?

Anak usia 7–17 tahun di luar satuan pendidikan tetap termasuk sasaran dan dapat mengikuti CKG di Puskesmas.[3] Hubungi fasilitas terlebih dahulu untuk memeriksa alur identifikasi yang berlaku.

Apakah hasil CKG berarti anak sudah mendapat diagnosis?

CKG adalah pemeriksaan deteksi dini. Bila ada temuan, tanyakan apakah anak perlu pemantauan atau pemeriksaan lanjutan di Puskesmas atau fasilitas lain.[2][4]

Ringkasan

Pilih jalur berdasarkan usia dan status sekolah: peserta didik usia 7–17 tahun melalui sekolah, anak seusia di luar sekolah melalui Puskesmas, dan anak lebih kecil melalui jalur fasilitas kesehatan yang tersedia.[2][3] Siapkan data dengan teliti, konfirmasikan ketentuan lokal, simpan hasil, dan ikuti arahan tindak lanjut. Jangan menunggu CKG untuk keluhan yang membutuhkan pertolongan segera.

Sources

[1] https://satusehat.kemkes.go.id/mobile/faq/topic/49dc8b5a-24b3-456f-ba8e-f3110ce7d4d7 — Cara mendaftar CKG Sekolah - SATUSEHAT Mobile > "Bagaimana cara mendaftar Cek Kesehatan Gratis (CKG) Sekolah?" > "Terakhir diperbarui: 28 July 2026" [2] https://kemkes.go.id/id/how-to-register-for-free-health-checkups — Cara Daftar Cek Kesehatan Gratis - Kemenkes > "Ada tiga cara pendaftaran yang bisa dilakukan masyarakat:" > "Melalui aplikasi Satu Sehat Mobile – Masyarakat dapat mengetahui jadwal dan lokasi Puskesmas untuk cek kesehatan gratis." > "Datang langsung ke Puskesmas terdekat – Bagi masyarakat di daerah pedesaan yang tidak memiliki akses internet, cukup membawa KTP atau KK, dan petugas Puskesmas akan membantu proses pendaftaran." > "Untuk anak-anak usia sekolah, program cek kesehatan gratis ini juga berlaku. Mulai dari usia 7 hingga 17 tahun, termasuk anak-anak SD, SMP, dan SMA, akan memperoleh kesempatan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan disetiap tahun ajaran baru di sekolah." [3] http://ayosehat.kemkes.go.id/agenda-kegiatan/cek-kesehatan-gratis-ckg-sekolah — Cek Kesehatan Gratis Sekolah - Ayo Sehat Kemenkes > "Lokasi CKG untuk peserta didik dilaksanakan di sekolah, sedangkan anak usia 7-17 tahun diluar satuan pendidikan dilaksanakan di Puskesmas" > "Pemeriksaan diberikan sesuai kelompok umur dan jenjang pendidikan" [4] https://www.kemkes.go.id/id/kemenkes-targetkan-53-juta-siswa-ikut-cek-kesehatan-ini-jenis-pemeriksaannya-berdasarkan-usia — Jenis pemeriksaan CKG Sekolah berdasarkan usia - Kemenkes > "Persiapan teknis dilakukan tujuh hari sebelum pelaksanaan, meliputi pembagian kuisioner kepada siswa dan orang tua serta koordinasi antara sekolah dan Puskesmas." > "Anak dengan masalah akan dirujuk ke Puskesmas, sementara jika ditemukan tren seperti banyak anak yang obesitas atau kurang bugar, sekolah dan puskesmas akan menyusun program edukasi bersama." [5] https://satusehat.kemkes.go.id/faq/CKG/1123a8c7-7ea2-4755-8893-a1179b2847b1/bagaimana-cara-mendaftar-cek-kesehatan-gratis-ckg-sekolah — Cara mendaftar CKG Sekolah - SATUSEHAT > "Pendaftaran CKG Sekolah dapat dilakukan oleh orang tua/wali siswa melalui:" > "Catatan: Siswa hanya dapat memilih lokasi sekolah, tidak bisa memilih tanggal kunjungan. Pemeriksaan dilakukan di sekolah sesuai jadwal kunjungan Puskesmas." > "Pastikan peserta sudah mengisi skrining mandiri sebelum menerima pelayanan skrining kesehatan CKG Sekolah." > "Bila terkendala atau tidak memiliki nomor telepon atau WhatsApp untuk mendaftarkan anak sebagai peserta CKG Sekolah, orang tua/wali dapat mendaftar lewat petugas Puskesmas pengampu di sekolah melalui SATUSEHAT IndonesiaKu (ASIK)." > "Kirim pesan ke WhatsApp Kemenkes RI 0811-10-500-567 lalu pilih menu ‘Cek Kesehatan Gratis’"

Kapan perlu konsultasi

  • Hubungi sekolah atau Puskesmas bila jadwal, persyaratan, atau data anak belum jelas.
  • Tanyakan pemeriksaan lanjutan bila hasil skrining menandai masalah kesehatan.
  • Jangan menunggu jadwal CKG bila anak membutuhkan pertolongan medis segera.

Tanda di atas bukan diagnosis. Ini sinyal untuk ngobrol dengan tenaga profesional supaya si kecil dapat dukungan lebih awal.

Pertanyaan yang sering diajukan

Tidak. Peserta didik usia 7–17 tahun diperiksa di sekolah, tetapi orang tua dapat mendaftarkan siswa melalui SATUSEHAT Mobile, WhatsApp resmi Kementerian Kesehatan, atau bantuan petugas Puskesmas pengampu. Anak usia 7–17 tahun yang tidak bersekolah dilayani melalui Puskesmas.

Gratis, tanpa bayar
Pantau tumbuh kembang si kecil di appAktivitas harian sesuai usia, checklist milestone, dan grafik pertumbuhan.
Get it on Google Play
Download on the App Store
Biar si kecil belajar bersama temanCoba sehari di daycare MainStory terdekat: kegiatan penuh, laporan harian ke HP Mama.Cari daycare & coba trial

Baca juga

Yuk

Daftar ke

MainStory Logo