Jackie Chan, aktor laga legendaris asal Hong Kong, baru-baru ini terbuka mengenai pengalaman pribadinya sebagai ayah dan bagaimana pola asuh keras yang ia terapkan justru menyebabkan hubungan dengan putranya menjadi renggang. Dalam refleksinya sambil mempromosikan film terbaru, ia menyadari bahwa mendidik dengan keras tidak sama dengan mendidik yang benar, dan hal ini memberikan pelajaran penting bagi para orang tua masa kini.
Selama bertahun-tahun, Jackie Chan percaya bahwa seorang ayah harus tegas agar anaknya tumbuh berbudi dan taat. Namun ia menyadari keyakinan itu adalah suatu kesalahan. Chan sendiri mengakui bahwa sering kali ia berkritis tanpa pernah memberi kata baik kepada putranya, Jaycee Chan. Ia mengatakan bahwa pola asuh ini lebih banyak menanamkan rasa takut daripada rasa hormat atau cinta.
Ia mengenang bahwa dahulu setiap kali bertemu Jaycee, reaksinya cenderung memarahi atau mengkritik. Bahkan ketika Jaycee menelepon untuk mengucapkan selamat ulang tahun, Jackie justru meminta panggilan itu di waktu lain — sebuah momen yang justru menghentikan komunikasi mereka sama sekali.
Pola asuh yang sangat keras — meskipun dimaksudkan untuk mendisiplinkan — sering kali mengurangi ruang emosional bagi anak untuk merasa diterima, dicintai, dan didukung. Banyak penelitian psikologi perkembangan menunjukkan bahwa disiplin tanpa kasih sayang dan komunikasi yang baik dapat memicu jarak emosional antara orang tua dan anak, bahkan setelah mereka dewasa.
Dalam pengakuannya, Jackie sendiri mengatakan, “Saya salah. Pendidikan seharusnya tidak seperti ini. Saya seharusnya memberikan lebih banyak kebebasan.” Kalimat ini bukan hanya penyesalan pribadi, tetapi juga pesan tersirat bahwa sebagai orang tua, kita perlu menyeimbangkan disiplin dengan pengertian dan kasih sayang.
Disiplin membantu anak memahami batasan dan tanggung jawab, tetapi jika dilakukan tanpa empati, tidak akan menciptakan hubungan yang sehat.
Anak yang merasa didengar dan dicintai cenderung terbuka dan percaya diri. Percakapan yang hangat justru membuat disiplin lebih efektif.
Mengakui kesalahan — seperti yang dilakukan Jackie — bisa menjadi awal dari perubahan. Permintaan maaf dan usaha untuk memperbaiki hubungan tetap bisa membangun kembali hubungan orang tua-anak.
Kisah Jackie Chan dengan anaknya bukan sekadar cerita selebritas. Ini adalah pengingat bagi semua orang tua bahwa mendidik anak bukan hanya soal aturan atau ketegasan semata, tetapi tentang membangun hubungan emosional yang sehat dan penuh dukungan. Pola asuh yang benar tidak hanya menuntut tindak disiplin, tetapi juga memberi ruang bagi cinta, pemahaman, dan dialog.