Pendidikan AnakPendidikan AnakUtama: 5–6 tahun; sesuaikan jumlah dan aturan dengan kesiapan anak

Cara Mengajarkan Anak TK Berhitung: 5 Permainan dari Benda Konkret

TM
Tim MainStory21 Okt 2026 · 9 menit baca
Inti artikel
  • Berhitung mencakup urutan angka, korespondensi satu-satu, jumlah akhir, lambang bilangan, dan perbandingan.
  • Gunakan benda besar dan permainan singkat agar konsep terlihat, bukan sekadar dihafal.
  • Catat contoh perilaku konkret, bukan skor atau label kemampuan.
  • Selaraskan pendekatan dengan guru dan jangan memakai satu sesi sebagai alat diagnosis.

Cara Mengajarkan Anak TK Berhitung: 5 Permainan dari Benda Konkret

Mengajarkan anak TK berhitung bukan sekadar membuat anak hafal urutan “satu, dua, tiga”. Anak juga perlu berlatih memasangkan satu kata bilangan dengan satu benda, memahami bahwa bilangan terakhir menyatakan jumlah, membandingkan kelompok, dan menghubungkan jumlah dengan lambang angka. Buku Saku Pengembangan Numerasi untuk Anak Usia 5–6 Tahun dari Kemendikdasmen menempatkan bilangan bersama pola, geometri, pengukuran, serta data sebagai bagian dari numerasi awal—jadi lembar kerja angka hanyalah satu pilihan kecil, bukan pusat seluruh pengalaman matematika.[3]

Panduan ini menawarkan lima permainan untuk anak sekitar usia TK dengan benda yang sudah ada di rumah. Tujuannya bukan mengejar kecepatan atau menetapkan anak “sudah bisa” dan “belum bisa”, melainkan membantu orang tua melihat konsep mana yang sedang dipahami anak dan dukungan apa yang membuatnya nyaman mencoba lagi.

Sebelum mulai, bedakan lima keterampilan berhitung

Saat anak dapat menyebut angka sampai 20, belum tentu ia otomatis memahami jumlah 20 benda. Amati keterampilan secara terpisah:

  1. Urutan bilangan: menyebut kata bilangan dengan urutan yang stabil.
  2. Korespondensi satu-satu: menyentuh atau memindahkan satu benda untuk setiap satu hitungan.
  3. Kardinalitas: memahami bahwa kata bilangan terakhir menunjukkan jumlah seluruh benda.
  4. Lambang bilangan: menghubungkan jumlah benda dengan angka tertulis, misalnya tiga benda dengan “3”.
  5. Perbandingan: mengenali kelompok yang lebih banyak, lebih sedikit, atau sama.

Panduan numerasi pemerintah menjelaskan inti bilangan melalui membilang, korespondensi satu-satu, kardinalitas, dan lambang bilangan; panduan itu juga menempatkan membandingkan serta mengurutkan kelompok sebagai hubungan ant bilangan.[3] NAEYC menunjukkan bahwa permainan jalur angka dapat melatih urutan, korespondensi satu-satu, lambang tertulis, serta konsep sebelum–sesudah dan lebih banyak–lebih sedikit.[2]

Gunakan daftar ini sebagai peta observasi, bukan tes sekali duduk. Seorang anak dapat lancar menyebut urutan angka tetapi masih melompati benda saat menghitung. Anak lain mungkin belum menyebut urutan panjang, tetapi sudah tahu dua kelompok memiliki jumlah sama.

Siapkan permainan yang singkat dan aman

Pilih benda besar yang mudah dipegang dan tidak tajam, misalnya balok besar, sendok plastik, kaus kaki, mangkuk plastik, atau kartu buatan sendiri. Hindari komponen kecil bila anak masih memasukkan benda ke mulut. Dampingi dari dekat dan simpan kembali bahan setelah bermain.

Mulai dengan jumlah kecil yang dapat ditangani anak. Tidak ada kewajiban langsung menghitung sampai 10 atau 20. Jika anak kehilangan jejak, kurangi jumlah benda, susun berjajar, dan ajak menghitung bersama sambil menunjuk satu per satu.

NAEYC menyarankan pengalaman matematika awal yang rendah tekanan, berulang, dan berbasis permainan; orang dewasa dapat memodelkan korespondensi satu-satu dengan menunjuk setiap benda ketika menghitung bersama.[1] Buku saku Kemendikdasmen juga menyebut bermain sebagai strategi utama kegiatan numerasi anak usia dini dan menganjurkan rancangan kegiatan berdasarkan minat serta kebutuhan anak.[3]

Permainan 1 — Satu rumah untuk satu benda

Konsep utama: korespondensi satu-satu dan kardinalitas.

Bahan

  • 3–6 mangkuk atau lingkaran kertas;
  • jumlah balok besar atau kaus kaki yang sama.

Cara bermain

  1. Letakkan tiga mangkuk berjajar.
  2. Ajak anak memberi “satu rumah” untuk setiap benda: satu balok di setiap mangkuk.
  3. Sentuh setiap mangkuk sambil menghitung bersama: “Satu, dua, tiga.”
  4. Tanyakan, “Jadi ada berapa balok semuanya?”
  5. Tambah satu mangkuk dan satu benda bila permainan terasa mudah.

Jika anak menghitung satu benda dua kali, geser setiap benda ke sisi lain setelah disebut. Gerakan ini membuat benda yang sudah dihitung terlihat berbeda dari yang belum dihitung.

Kalimat pendamping

  • “Satu mangkuk mendapat satu balok.”
  • “Kita sentuh satu benda untuk satu angka.”
  • “Angka terakhir tadi tiga. Jadi jumlahnya tiga.”

Jangan buru-buru menyebut anak salah. Coba, “Mari kita hitung lagi sambil memindahkan bendanya.”

Permainan 2 — Pesanan toko angka

Konsep utama: menghubungkan jumlah dengan lambang bilangan.

Bahan

  • kartu angka 1–5;
  • benda besar untuk “barang toko”, seperti sendok plastik atau balok besar;
  • satu tas atau mangkuk.

Cara bermain

  1. Anak memilih satu kartu angka.
  2. Orang tua membacakan angkanya bila anak belum mengenal lambang tersebut.
  3. Anak memasukkan jumlah barang sesuai kartu.
  4. Hitung ulang barang bersama sebelum “pesanan” diserahkan.
  5. Tukar peran: anak menjadi pemilik toko dan orang tua menjadi pembeli.

Jika lambang angka masih membingungkan, mulai dengan dua kartu yang sangat berbeda, misalnya 1 dan 4. Anak boleh meniru contoh yang dibuat orang tua. Fokus pertama adalah mencocokkan jumlah, bukan menghafal bentuk semua angka.

Buku saku Kemendikdasmen memberi contoh anak memasangkan benda dengan bilangan dan membuat lambang bilangan menggunakan bahan konkret.[3] Permainan toko membawa hubungan itu ke situasi pura-pura yang memiliki tujuan jelas.

Permainan 3 — Jalur angka di lantai

Konsep utama: urutan bilangan, satu langkah untuk satu hitungan, dan sebelum–sesudah.

Bahan

  • lima lembar kertas bernomor 1–5;
  • selotip kertas yang aman untuk lantai;
  • kartu titik 1–3 atau kubus buatan sendiri berukuran besar.

Cara bermain

  1. Tempel angka 1–5 membentuk jalur dengan jarak yang aman.
  2. Anak mengambil satu kartu titik.
  3. Anak bergerak sesuai jumlah titik sambil menghitung satu langkah untuk satu angka.
  4. Sebutkan titik mulai dan akhir: “Mulai di 2, maju dua langkah, berhenti di 4.”
  5. Tanyakan ringan, “Angka berapa setelah 4?” atau “Mana yang lebih dekat ke akhir?”

Mulai dengan berjalan, bukan melompat, bila lantai licin atau ruang sempit. Singkirkan furnitur dan benda yang dapat membuat anak tersandung. Permainan meja dengan token besar dapat dipakai bila jalur lantai tidak aman.

NAEYC menjelaskan bahwa permainan jalur angka membantu anak prasekolah berlatih mengenali angka tertulis, urutan stabil, korespondensi satu-satu, besar-kecil bilangan, dan kosakata seperti sebelum, sesudah, lebih dekat, serta lebih jauh.[2] Versi 1–5 cukup untuk memulai; jalur dapat diperpanjang setelah anak memahami cara bermain.

Permainan 4 — Tambah satu, ambil satu

Konsep utama: perubahan jumlah dan operasi hitung sederhana dengan benda konkret.

Bahan

  • 3–6 balok besar;
  • satu alas atau baki.

Cara bermain

  1. Letakkan dua balok dan hitung bersama.
  2. Katakan, “Kita tambah satu.” Minta anak menaruh satu balok lagi.
  3. Hitung kembali dan bandingkan dengan jumlah sebelumnya.
  4. Ulangi dengan “ambil satu”.
  5. Setelah beberapa putaran, tanyakan prediksi sebelum menghitung ulang: “Sekarang ada tiga. Kalau ditambah satu, kira-kira jadi berapa?”

Tidak perlu langsung menulis “2 + 1 = 3”. Biarkan anak melihat perubahan jumlah terlebih dahulu. Buku saku Kemendikdasmen menempatkan operasi hitung setelah inti bilangan dan hubungan antar bilangan; NAEYC juga memberi contoh aktivitas “satu lagi” saat anak membangun dengan balok.[3][1]

Jika anak memberi jawaban berbeda, periksa dengan benda, bukan dengan ceramah: “Kamu bilang lima. Mari kita sentuh satu per satu dan lihat bersama.”

Permainan 5 — Sortir, hitung, lalu bandingkan

Konsep utama: klasifikasi, jumlah, dan perbandingan.

Bahan

  • 6–10 kaus kaki, balok besar, atau benda lain dengan dua warna atau ukuran;
  • dua alas sebagai tempat kelompok.

Cara bermain

  1. Ajak anak memilih aturan pengelompokan, misalnya warna atau ukuran.
  2. Pisahkan benda ke dua kelompok.
  3. Hitung setiap kelompok dengan menunjuk satu per satu.
  4. Tanyakan, “Kelompok mana lebih banyak? Bagaimana kamu tahu?”
  5. Ubah satu benda dari kelompok A ke B, lalu amati apa yang berubah.

Kemendikdasmen memasukkan klasifikasi, seriasi, dan penyajian data sederhana dalam numerasi awal. Kegiatannya dapat berupa mengelompokkan benda berdasarkan warna, bentuk, ukuran, jumlah, atau fungsi.[3] NAEYC juga memasukkan sets and sorting sebagai ide besar matematika awal yang dapat muncul melalui permainan.[1]

Pertanyaan “Bagaimana kamu tahu?” memberi ruang bagi anak untuk menunjuk, memasangkan benda, atau menghitung ulang. Jawaban tidak harus berupa penjelasan panjang.

Urutan bantuan saat anak kesulitan

Gunakan bantuan dari yang paling ringan:

  1. Tunggu sejenak. Beri anak waktu mengamati.
  2. Sederhanakan. Kurangi jumlah benda atau pilihan.
  3. Rapikan posisi. Susun benda berjajar agar tidak terhitung dua kali.
  4. Modelkan satu putaran. Orang tua menunjuk dan menghitung, lalu anak mencoba dengan kelompok baru.
  5. Lakukan bersama. Bergiliran menyebut angka atau memindahkan benda.
  6. Berhenti dengan tenang. Simpan permainan untuk kesempatan lain bila anak lelah atau frustrasi.

Hindari memberi kuis panjang, membandingkan dengan teman atau saudara, serta menyebut anak “tidak berbakat matematika”. Fokuskan umpan balik pada tindakan yang terlihat: “Kamu memindahkan setiap balok setelah menghitung, jadi tidak ada yang terlewat.”

Catatan observasi tanpa nilai

Setelah bermain, tulis satu atau dua contoh konkret:

  • “Menghitung empat sendok sambil menunjuk satu per satu.”
  • “Menyebut sampai lima tetapi melewati satu balok.”
  • “Mengetahui kelompok merah lebih banyak setelah memasangkan benda.”
  • “Mencocokkan kartu 3 dengan tiga benda setelah diberi contoh.”

Jangan mengubah catatan menjadi skor harian. Panduan pemerintah menganjurkan pemetaan kemampuan melalui pengamatan langsung dan catatan anekdot, kemudian menggunakan hasil pengamatan untuk merancang kegiatan berikutnya sesuai minat dan kebutuhan anak.[3]

Pilih langkah berikut berdasarkan catatan. Bila anak masih melewati benda, ulangi permainan satu-satu dengan jumlah lebih kecil. Bila konsep itu sudah nyaman, variasikan susunan atau tambahkan pertanyaan perbandingan—bukan otomatis memperbesar angka.

Kapan perlu berdiskusi dengan guru?

Bicarakan dengan guru PAUD bila orang tua ingin menyelaraskan bahasa, alat, atau urutan konsep antara rumah dan sekolah. Bawa contoh yang konkret: apa yang dilakukan anak, jumlah benda yang digunakan, bantuan yang diberikan, dan respons anak.

Satu permainan atau satu minggu bukan alat untuk menyimpulkan kemampuan perkembangan. Bila kekhawatiran lebih luas dan menetap—misalnya anak juga kesulitan memahami instruksi sehari-hari, berkomunikasi, melihat bahan, atau menggunakan tangan saat bermain—catat pengamatan tersebut dan diskusikan dengan guru serta tenaga profesional yang mengenal anak. Artikel ini bukan alat skrining atau diagnosis.

Ringkasnya

Cara mengajarkan anak TK berhitung dapat dimulai dari benda konkret dan lima konsep yang terpisah: urutan, satu-ke-satu, jumlah akhir, lambang angka, dan perbandingan. Gunakan permainan rumah benda, toko angka, jalur lantai, tambah–ambil satu, serta sortir kelompok. Mulai dari jumlah kecil, dampingi tanpa mengambil alih, dan biarkan pengamatan hari ini menentukan permainan berikutnya.

FAQ

Anak TK sebaiknya bisa berhitung sampai berapa?

Artikel ini tidak menetapkan satu angka sebagai syarat lulus. Mulailah dari rentang yang dapat dihitung anak dengan korespondensi satu-satu dan pemahaman jumlah, lalu diskusikan target pembelajaran dengan guru PAUD berdasarkan konteks anak.

Bagaimana jika anak hafal urutan angka tetapi salah menghitung benda?

Kurangi jumlah benda, susun berjajar, dan minta anak menyentuh atau memindahkan satu benda untuk setiap satu kata bilangan. Hitung ulang bersama tanpa memberi label gagal.

Perlukah memakai lembar kerja angka?

Tidak wajib. Benda konkret, permainan pura-pura, kegiatan sortir, dan jalur angka memberi pengalaman langsung tentang jumlah serta hubungan bilangan. Lembar kerja dapat menjadi pelengkap bila anak tertarik dan sudah memahami konsep yang sedang diwakili.

Bolehkah langsung mengajarkan penjumlahan?

Mulai dari perubahan konkret seperti “tambah satu” dan “ambil satu” setelah anak cukup nyaman menghitung kelompok kecil. Gunakan benda untuk memeriksa jawaban sebelum beralih ke simbol operasi.

Sources

[1] https://www.naeyc.org/resources/pubs/yc/fall2022/nurturing-early-math-play — NAEYC: Nurturing Early Math Play and Discovery [2] https://www.naeyc.org/resources/pubs/tyc/apr2019/number-path-games — NAEYC: Number Path Games [3] https://paudpedia.kemendikdasmen.go.id/uploads/pdfs/TINY_20220709_130214.pdf — Pengembangan Numerasi untuk Anak Usia 5–6 Tahun — PAUDPEDIA

Kapan perlu konsultasi

  • Selaraskan bahasa, alat, dan urutan konsep dengan guru PAUD bila pendekatan rumah dan sekolah berbeda.
  • Diskusikan pengamatan yang lebih luas dan menetap dengan guru serta tenaga profesional yang mengenal anak; artikel ini bukan alat skrining atau diagnosis.

Tanda di atas bukan diagnosis. Ini sinyal untuk ngobrol dengan tenaga profesional supaya si kecil dapat dukungan lebih awal.

Pertanyaan yang sering diajukan

Tidak ada satu angka yang menjadi syarat lulus dalam artikel ini. Mulai dari rentang yang dapat dihitung anak dengan korespondensi satu-satu dan pemahaman jumlah, lalu selaraskan target dengan guru PAUD.

Gratis, tanpa bayar
Pantau tumbuh kembang si kecil di appAktivitas harian sesuai usia, checklist milestone, dan grafik pertumbuhan.
Get it on Google Play
Download on the App Store
Biar si kecil belajar bersama temanCoba sehari di daycare MainStory terdekat: kegiatan penuh, laporan harian ke HP Mama.Cari daycare & coba trial

Baca juga

Yuk

Daftar ke

MainStory Logo