Skrining Bayi Baru Lahir di Puskesmas: Waktu, Alur, dan Tindak Lanjut
- Tanyakan skrining sebelum bayi pulang dari tempat persalinan.
- SHK dianjurkan pada usia 48–72 jam.
- Jenis layanan yang tersedia perlu dikonfirmasi kepada puskesmas atau fasilitas KIA setempat.
- Skrining bukan diagnosis; hasil yang tidak normal memerlukan tindak lanjut cepat.
- Pastikan data kontak keluarga dan alur penerimaan hasil sudah jelas.
Skrining bayi baru lahir membantu menemukan kondisi yang belum tentu tampak saat bayi terlihat sehat. Bagi orang tua, bagian terpenting bukan menghafal nama penyakit, melainkan mengetahui kapan harus bertanya, layanan apa yang tersedia, bagaimana sampel diambil, dan ke mana hasil akan disampaikan.
Puskesmas dapat menjadi pintu masuk untuk menanyakan layanan ini, terutama bila persalinan berlangsung di rumah, klinik, atau fasilitas yang belum mengambil sampel sebelum bayi pulang. Namun, jenis pemeriksaan, jadwal, logistik, dan alur rujukan dapat berbeda antarwilayah. Hubungi puskesmas atau fasilitas pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) setempat untuk memastikan layanan yang tersedia.
Penting: skrining adalah uji saring, bukan diagnosis. Hasil yang tidak normal atau perlu diperiksa ulang tidak otomatis berarti bayi pasti mengalami penyakit. Bayi memerlukan tindak lanjut sesuai arahan tenaga kesehatan.
Kapan orang tua perlu menanyakan skrining?
Tanyakan tentang skrining sejak sebelum pulang dari tempat persalinan. Untuk Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK), sumber Kementerian Kesehatan dan Ikatan Dokter Anak Indonesia menyebut waktu yang dianjurkan adalah saat bayi berusia 48–72 jam. IDAI juga menyebut pengambilan dapat dilakukan sebelum bayi pulang.
Karena waktu pulang dan kondisi bayi tidak selalu sama, jangan menunda bertanya hanya karena bayi tampak sehat. Sebagian besar bayi dengan hipotiroid kongenital tidak menunjukkan gejala yang jelas saat lahir. Skrining justru ditujukan untuk menemukan risiko lebih dini, sebelum masalah tampak.
Bila bayi sudah pulang dan belum diskrining, segera hubungi tempat persalinan, puskesmas, atau fasilitas KIA terdekat. Sampaikan usia bayi dan tanyakan kapan bayi perlu datang. Jangan menentukan sendiri bahwa waktunya sudah terlewat; tenaga kesehatan perlu menilai langkah yang sesuai dengan usia dan kondisi bayi.
Apakah semua skrining tersedia di setiap puskesmas?
Kementerian Kesehatan mencantumkan beberapa jenis skrining bayi baru lahir, antara lain:
- Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK)
- skrining Penyakit Jantung Bawaan Kritis
- skrining Hiperplasia Adrenal Kongenital (HAK)
- skrining defisiensi G6PD
- skrining pendengaran
Pada skrining berbasis darah, Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa SHK, HAK, dan G6PD dapat menggunakan satu kali pengambilan sampel darah bayi. Namun, informasi ini bukan jaminan bahwa semua tes tersebut selalu tersedia di setiap puskesmas. Ketersediaan dapat dipengaruhi kesiapan tenaga, alat atau bahan, jejaring laboratorium, serta kebijakan pelaksanaan setempat.
Saat menghubungi fasilitas, tanyakan secara spesifik:
- Skrining bayi baru lahir apa saja yang tersedia hari itu?
- Apakah pengambilan sampel dilakukan di puskesmas atau dirujuk ke fasilitas lain?
- Perlukah membuat janji atau datang pada jam layanan KIA tertentu?
- Dokumen apa yang perlu dibawa?
- Bagaimana hasil akan diberikan dan siapa yang harus dihubungi bila hasil belum diterima?
Dengan pertanyaan ini, orang tua dapat membedakan antara layanan yang tersedia langsung, layanan melalui jejaring, dan pemeriksaan yang perlu dilakukan di fasilitas lain.
Apa yang perlu dikonfirmasi sebelum bayi pulang?
Sebelum meninggalkan rumah sakit, klinik, puskesmas, atau tempat bersalin, gunakan daftar periksa berikut.
1. Apakah sampel sudah diambil?
Jangan hanya bertanya, “Apakah bayi sudah diperiksa?” Tanyakan nama skriningnya. Pemeriksaan fisik rutin tidak selalu sama dengan pengambilan sampel darah untuk skrining.
2. Skrining apa yang sudah dan belum dilakukan?
Catat nama pemeriksaan yang disebutkan tenaga kesehatan. Bila ada pemeriksaan yang belum tersedia, tanyakan fasilitas tujuan dan waktu yang disarankan.
3. Apakah data kontak orang tua sudah benar?
Pedoman teknis SHK mencantumkan data orang tua, alamat, serta nomor telepon atau email sebagai bagian pencatatan. Pastikan nomor yang diberikan aktif agar fasilitas dapat menghubungi keluarga bila diperlukan tindak lanjut.
4. Bagaimana cara menerima hasil?
Tanyakan apakah hasil disampaikan melalui telepon, pesan, aplikasi, kunjungan kembali, atau melalui fasilitas pengirim. Dalam program Cek Kesehatan Gratis, Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa hasil yang telah diinput tenaga kesehatan dapat terkirim melalui SATUSEHAT Mobile atau WhatsApp sesuai nomor terdaftar. Alur lokal dapat berbeda, jadi mintalah penjelasan yang berlaku untuk bayi Anda.
5. Kapan dan ke mana harus menindaklanjuti?
Hindari mengandalkan perkiraan waktu yang tidak dijelaskan fasilitas. Minta nama unit atau nomor kontak yang dapat dihubungi dan catat instruksi bila hasil belum muncul atau keluarga sulit dihubungi.
Bagaimana pengalaman pengambilan darah dari tumit?
Pada SHK, sedikit darah diambil dari tumit bayi, lalu diteteskan ke kertas saring khusus. Setelah kering, bercak darah dikirim ke laboratorium untuk diperiksa.
Kadang sampel perlu diambil ulang, misalnya bila petugas menyampaikan bahwa bahan tidak dapat diperiksa. Permintaan ulang bukan diagnosis. Ikuti jadwal pengambilan ulang yang diberikan agar proses skrining tidak terputus.
Bagaimana alur hasil dan tindak lanjutnya?
Alur sederhananya dapat berupa:
- Pencatatan data bayi dan keluarga. Fasilitas mencatat waktu lahir, waktu pengambilan sampel, kondisi tertentu pada bayi, serta informasi kontak.
- Pengambilan dan pengiriman sampel. Untuk SHK, darah dari tumit atau vena dicatat dan sampel dikirim untuk pemeriksaan laboratorium.
- Pelaporan hasil kepada fasilitas atau keluarga. Cara penyampaian mengikuti sistem yang digunakan program dan fasilitas setempat.
- Pengambilan ulang atau pemeriksaan konfirmasi bila diperlukan. Pedoman teknis membedakan hasil skrining, tes konfirmasi, dan diagnosis atau pengobatan.
- Rujukan dan penanganan. Bila hasil mengarah pada perlunya evaluasi lebih lanjut, bayi perlu mengikuti arahan tenaga kesehatan tanpa menunggu gejala.
Hasil skrining tidak boleh ditafsirkan sendiri. Istilah seperti “tidak normal”, “perlu konfirmasi”, atau “tidak dapat diperiksa” memiliki tindak lanjut yang berbeda. Hubungi fasilitas yang mengambil sampel untuk mengetahui langkah berikutnya.
Apa yang harus dilakukan bila hasil belum diterima?
Tidak ada satu waktu tunggu yang dapat dijanjikan untuk semua puskesmas dan semua jenis skrining. Jejaring laboratorium dan sistem pelaporan dapat berbeda. Karena itu:
- simpan bukti atau catatan tanggal dan tempat pengambilan sampel;
- pastikan nomor telepon yang terdaftar tetap aktif;
- hubungi fasilitas sesuai waktu tindak lanjut yang mereka berikan;
- bila tidak mendapat petunjuk waktu, tanyakan kapan sebaiknya menghubungi kembali;
- beri tahu petugas bila alamat atau nomor kontak berubah.
Jangan menganggap tidak ada kabar berarti hasil pasti normal. Pastikan status hasil secara aktif melalui kanal yang ditentukan fasilitas.
Jika hasil disebut tidak normal, apa artinya?
Hasil skrining yang tidak normal berarti bayi perlu dinilai lebih lanjut; hasil itu belum merupakan diagnosis akhir. Tenaga kesehatan dapat meminta pengambilan sampel ulang, tes konfirmasi, pemeriksaan klinis, atau rujukan.
Lakukan tindak lanjut secepat yang diarahkan. Jangan menunggu bayi menunjukkan gejala, mengubah pemberian obat, atau memberi suplemen atas inisiatif sendiri. Bila ada instruksi yang tidak jelas, minta petugas mengulang penjelasan dan tulis nama pemeriksaan serta lokasi rujukan.
Kapan perlu segera berkonsultasi?
Hubungi puskesmas, tempat persalinan, dokter, atau bidan segera bila:
- bayi mendekati atau telah melewati usia 48–72 jam tetapi orang tua belum mendapat informasi tentang SHK;
- bayi sudah pulang tanpa kejelasan apakah sampel skrining telah diambil;
- fasilitas menghubungi keluarga karena hasil perlu diulang atau dikonfirmasi;
- keluarga tidak dapat menerima hasil melalui kanal yang dijanjikan;
- bayi tampak sakit atau orang tua mengkhawatirkan kondisinya, terlepas dari status skrining.
Skrining tidak menggantikan pemeriksaan medis ketika bayi sedang sakit. Bila bayi tampak tidak sehat, cari pertolongan tenaga kesehatan dan jangan menunggu hasil skrining.
Ringkasan untuk orang tua
- Tanyakan skrining sebelum bayi pulang, idealnya sejak perawatan setelah lahir.
- Untuk SHK, waktu yang dianjurkan adalah usia 48–72 jam; bicarakan segera dengan tenaga kesehatan bila belum dilakukan.
- Puskesmas dapat menjadi pintu akses, tetapi ketersediaan tiap pemeriksaan perlu dikonfirmasi secara lokal.
- Pengambilan darah tumit menghasilkan bercak darah pada kertas saring untuk pemeriksaan laboratorium.
- Pastikan nomor kontak benar dan ketahui bagaimana hasil akan disampaikan.
- Skrining bukan diagnosis. Hasil yang tidak normal, perlu ulang, atau tidak dapat diperiksa harus ditindaklanjuti sesuai arahan tenaga kesehatan.
Kapan perlu konsultasi
- Segera tanyakan kepada tenaga kesehatan bila bayi mendekati atau melewati usia 48–72 jam dan SHK belum dibicarakan.
- Hubungi fasilitas bila bayi pulang tanpa kejelasan pengambilan sampel atau hasil belum diterima sesuai arahan.
- Tindak lanjuti segera bila diminta mengulang sampel, menjalani tes konfirmasi, atau datang untuk rujukan.
- Cari pertolongan medis bila bayi tampak sakit; jangan menunggu hasil skrining.
Tanda di atas bukan diagnosis. Ini sinyal untuk ngobrol dengan tenaga profesional supaya si kecil dapat dukungan lebih awal.
Pertanyaan yang sering diajukan
Ya. Skrining ditujukan untuk menemukan kondisi yang mungkin belum tampak pada bayi baru lahir. Untuk SHK, sebagian besar bayi dengan kondisi tersebut tidak menunjukkan gejala jelas saat lahir.
Sumber Kementerian Kesehatan dan IDAI menyebut usia 48–72 jam sebagai waktu yang dianjurkan. Tanyakan sebelum bayi pulang dan segera hubungi tenaga kesehatan bila belum dilakukan.
Belum tentu. Ketersediaan pemeriksaan, jadwal, bahan, dan jejaring laboratorium dapat berbeda. Konfirmasikan langsung kepada puskesmas atau fasilitas KIA setempat.
Tidak. Skrining bukan diagnosis. Hasil yang tidak normal menandakan perlunya tindak lanjut, seperti pengambilan ulang, tes konfirmasi, pemeriksaan, atau rujukan sesuai arahan tenaga kesehatan.
Hubungi fasilitas yang mengambil sampel, sebutkan tanggal pengambilan, dan pastikan nomor kontak keluarga benar. Jangan menganggap tidak ada kabar berarti hasil pasti normal.
- 1. Skrining Bayi Baru Lahir — Kementerian Kesehatan RI
- 2. Kemenkes Relaunching Skrining Hipotiroid Kongenital untuk Kurangi Risiko Kecacatan pada Anak
- 3. Cek Kesehatan Gratis — Kementerian Kesehatan RI
- 4. Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK) untuk Bayi Sehat — Kementerian Kesehatan RI
- 5. Pentingnya Skrining Hipotiroid pada Bayi — Ikatan Dokter Anak Indonesia
- 6. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 78 Tahun 2014 tentang Skrining Hipotiroid Kongenital
